Kamis, 11 November 2010

AMALIYAH BULAN DZUL-HIJJAH

DOA 10 HARI AWAL BULAN DZUL HIJJAH

Sebagaiman keterangan yang ada dalam kitab “kanzunnajah was-ssurur. al-‘Alamah as-Syaikh al-Hathob al-Maky al-Maliky mengatakan ; Membaca do’a

اللّهمّ فرَجَكَ القَرِيْبَ، اللّهُمّ ستَرَكَ الحَصِيْنَ، اللّهمّ مَعْرُوْفَكَ القَدِيْمَ، اللّهُمّ عَوائِدَكَ الحَسَنَةَ، اللّهمّ عَطاكَ الحَسَنَ الجَمِيْلَ، ياقَدِيمَ الإحْسانِ إحْسانكَ القَدِيم يادائِمَ المَعْرُوفِ مَعْرُوفكَ الدَّائِم.

1 s.d 10 Dibaca tiap hari semampunya (sebanyak-banyaknya) setiap tanggal DzulHijjah, niscaya akan memudahkannya dalam pelunasan hutang piutang.

Rabu, 30 Desember 2009

Haruskah Merayakan Tahun Baru?

Nggak terasa perjalanan hidup kita di tahun 2009ini tinggal menghitung detik aja. Itu dihitung saat artikel di buletin kesayangan kamu ini terbit pada akhir bulan Desember 2010. Sebenarnya hitungan tahun itu sekadar untuk ukuran. Bisa ditentukan aturan pengukurannya sama kita sendiri sebagai bahan untuk membuat target dan program dalam jangka waktu tertentu. Misalnya sedetik, semenit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, satu windu, satu dasawarsa, satu abad, satu milenium. Selain membuat target dan program, tentunya ukuran waktu tersebut sebagai bahan evaluasi diri dan perjalanan hidup kita.

Nah, ngomong-ngomong soal tahun baru masehi yang senantisa dirayakan dengan sangat meriah, kadangkala bahkan ada yang sengaja melupakan sejenak persoalan hidup yang berat untuk sekadar merayakan pergantian tahun: old and new. Haruskah kita merayakan pergantian tahun tersebut? Padahal, isinya tak jauh dari “itu-itu” juga: kumpul bareng dengan keluarga, atau bersama komunitas yang kita buat, atau rame-rama membaur dengan masyarakat pada umumnya di tempat tertentu sambil menikmati makanan dan hiburan. Termasuk melanggengkan tradisi niup terompet pas detik jarum jam yang disepakati sebagai penanda awal dan akhir tahun tepat di angka 12 atau pada jam digital menunjukkan kombinasi angka “00.00″.

Idih, apa enaknya kayak gitu? Cuma hiburan sesaat, suka-suka sejenak, setelah itu esok hari kita stres lagi dihadapkan pada langkanya minyak tanah, pada nasib diri yang tak kunjung membaik, pada semua harga-harga yang makin tak terbeli, pada banjir yang menenggelamkan kota, pada tanah longsor yang siap mengubur dan pada semua beban hidup yang mendera. Maklumlah, jaman sekarang lagi krisis kayak gini kalo sampe hura-hura keterlaluan banget! Iya nggak sih?

Belum lagi kalo kita ngomongin hukum merayakan pergantian tahun baru masehi, boleh apa nggak, haram apa nggak bagi kaum muslimin. Iya kan? Kita harus tahu. Malu atuh ama jenggot yang tumbuh di mana-mana (eh, jenggot kan cuma tumbuh di bawah dagu ya?). Iya, maksudnya udah gede tapi nggak tahu aturan syariat kan kayaknya gimana gitu? Nggak layak, gitu lho! Sori ini bukan merendahkan, tapi sekadar nyindir bin nyentil aja. Supaya kamu yang belum tahu terpacu untuk belajar. Setuju kan?

Hukum merayakan tahun baru masehi

Nah, sebelum membahas lebih lanjut, saya sengaja menempatkan subjudul ini lebih dulu ketimbang tema lain. Iya, ini supaya kita sebagai muslim bisa berhati-hati sebelum melakukan perbuatan. Sebab, berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara (sayriat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.

Lalu apa hukumnya merayakan tahun baru masehi bagi seorang muslim? Jawaban singkatnya adalah SSTBAH alias sangat sangat tidak boleh alias haram. Titik.

Duh, kok saklek banget sih? Oke, kalo kamu pengen tahu sebabnya, gaulislam mo ngasih bocorannya nih. Bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan tradisi dari ajaran Islam. Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap aja nggak lantas menjadikan tuh perayaan jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat.Oke?

So, sekadar tahu aja nih, tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani, lho. Masehi kan nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Sejarahnya gini nih, menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.

Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian 'memanfaatkan’ penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk jaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi)

Nah, Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. “The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date.”, demikian keterangan dalam Encarta.

Di jaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua-ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakang, depan bisa belakang bisa, kali ye?). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year, gitu lho.

Nah, jadi sangat jelas bahwa apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jangankan yang udah jelas perayaan keagamaan seperti Natal, yang masih bagian dari ritual mereka seperti tahun baru masehi dan ada hubungannya serta dianggap suci aja udah haram hukumnya dilakukan seorang muslim. Why?

Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Swt.: ”

“Dan orang-orang yang tidak memberikan perasaksian palsu” (QS al-Furqaan [25]: 72)

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.
Itu artinya, kalo sampe seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik.

Padahal, kita udah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah saw. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar ('Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini?" Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah". Lantas beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri" (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)

Terus, boleh nggak sih kita merayakan tahun baru karena niatnya bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nasrani? Ya, sekadar senang-senang aja gitu, sekadar refreshing deh.

Hmm.. ada baiknya kamu menyimak ucapan Umar Ibn Khaththab: "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640)

Umar ra. berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka" (ibid, No. 18641) Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, "Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka" ('Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)

Nah, berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadanya, juga gaya hidupnya), Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50)

At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.

Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Hmm.. catet ye!

Tahun baru, dosa baru?

Waduh, masa’ sih kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama aja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi udah bikin dosa baru. Keterlaluan abis deh kalo sampe punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktivitas maksiat. Kasihan deh!

Boys and gals, sebenarnya dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini udah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)

Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)

Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, en mana yang mubah. Intinya kudu taat sama syariat Islam.

Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Sudahlah merayakannya haram, eh, caranya maksiat pula. Halah, apa itu nggak dobel-dobel dosanya? Naudzubillahi min dzalik!

Sobat muda muslim, nggak baik hura-hura, lho. Hindari deh ya. Jangan sampe lupa diri. Itu sebabnya, Rasulullah saw. mewanti-wanti tentang dua hal yang bikin manusia tuh lupa diri. Sabda beliau saw.: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Nggak baik kalo kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:

“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-R?m [30]: 57)

Jadi, nggak usah deh kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih seru. Jangan nunggu pergantian tahun baru masehi, entar tobat belum eh udah mati duluan. Rugi berat! Yuk kita tingkatin terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa. Hari demi hari harus lebih baik. Yup, mari mulai sekarang juga untuk evaluasi diri. Are you ready?
[solihin: sholihin@gmx.net]

Sumber: gaulislam.com

Rabu, 23 Desember 2009

KISAH & PERISTIWA DI HARI 'ASYURO'

Syaikh al_Yafi'i menceritakan, di sebuah daerah bernama Royya yang terletak di kawasan Iraq, ada seorang Qodli (penguasa) yang kaya raya.

Dipagi hari yang cerah bertepatan dengan hari 'Asyuro' datang seorang laki-laki miskin yang menjadi tulang punggung dari keluarga yang banyak dan miskin. Kedatangannya bermaksud meminta sedekah beberapa potong roti, beberapa iris daging, dan beberapa keping dirham dari sang Qodli. kemudian Qodli bersedia menyanggupi permintaanya saat waktu dhuhur tiba, dan laki-laki miskin itu pulang kerumah dengan segenggam harapan untuk dapat makan di sore hari.

Saat waktu dhuhur, dia kembali menemui Qodli, namun qodli kelmbali menunda sampai tiba waktu 'Ashar. Saat waktu 'Ashar sudah tiba, ternyata harapannya kosong dan keinginannya lenyap ditelan kecewa, ternyata Qodli ingkar janji dan tak jadi memberi. Dengan hati hancur, setumpuk kekecewaan dan kegundahan di dalam hati, dia pulang ke rumah.

Ditengah perjalanan dia melihat seorang Nashroni (non Muslim) sedang berada di depan pintu rumahnya. dengan terpaks dia meminta pada nashroni itu, "Wahai tuan, dengan kemulian hari ini, berilah saya sesuatu". Kemudian Nashroni itu berkata, "Ada kemulian pa di hari ini?" Lalu laki-laki miskin itu menuturkan sebagian sifat dan keistimewaannya hari 'Asyuro'.

Mendengan keistimewaan hari 'Asyuro' kemudia Nashroni itu berkata, "Saya bersumpah demi kemuliaan hari ini, sebutlah apa yang engkau perlukan". Selanjutnya laki-laki miskin itu menyebutkan yang ia butuhkan pada hari itu. Kemudia diberinya barang-barang yang diperlukanya, bahkan lebih dari yang dia sebutkan.

Ketika hari berganti malam, dalam tidur sang Qodli bermimpi, diperlihatkan istana yang sangat megah dan indah. Emas, perak dan mutiara merah melapisi istana tersebut. Dalam mimpi dia bertanya, "Untuk siapa istana yang megah dan indah ini ?". Lalu ada suara yang menjawab, "Sesungguhnya istana itu untukmu, andaikan kau mengabulkan permintaan dari orang miskin yang datang padamu di hari 'Asyuro'. Akan tetapi karena kamu menolaknya, maka istana itu menjadi hak dari seorang Nashroni yang telah memberi sedekah pada laki-laki miskin itu."

Seketika itu juga sang Qodli terbangun dari mimpinya, dia ketakutan dan menyesal yang teramat sangat. Di pagi buta dia segra menemui Nashroni, untuk menukar apa yang telah diberikannya pada laki-laki miskin, dengan nilai yang berlipat ganda. Namun mendengar cerita Qodli dalam mimpinya, tentang balasan dari Allah atas apa yang telah ia beriakan di hari 'Asyuro', maka orang Nashroni tersebut menolak mentah-mentah tawaran harta berlimpah dari Qodli. Bahkan Nashroni tersebut berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat. Jadialah dia seorang muslim. dan tinggalah sang Qodli dalam penyesalan atas kebakhilannya.

Wallahu A'lam bis-Showab....

Kamis, 02 Juli 2009

KEISTIMEWAAN, KEUTAMAAN DAN AMALAN-AMALAN DI BULAN RAJAB

Di surga ada danau yang bernama Rajab. Airnya putih
melebihi putihnya air susu, manis melebihi manisnya madu dan
dinginnya melebihi salju. Barang siapa puasa sehari
di bulan Rajab kelak Allah akan memberikan minuman dari
danau Rajab. (Al-Hadits)

Dari Abi Hurairah berkata ; Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wassalama bersabda ; “ Barang siapa puasa pada tanggal 27 Rajab
Allah mencatatnya sebagaimana orang puasa 60 bulan”.
Dan ada awal hari bulan Rajab malaikat jibril turun kepada Nabi dengan risalah untuk isra’ bersama Nabi. Nabi bersabda “Ingat bulan Rajab adalah bulanya Allah, barang siapa puasa sehari dibulan Rajab dengan iman dan keikhlasan, maka akan mendapatkan keridhoan-Nya.”
(Al-Hadits)

Dari Shahabat Anas berkata ; Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wassalama bersabda ; “ barang siapa puasa 3 hari di bulan yang dimulyakan Allah (Rajab), maka Allah mencatat pahalanya
seperti ibadah 700 tahun”. (Al-Hadits)

Barang siapa membaca
رَبِّ اغْفِرْ لي وَارْحَمَنِْي ُوتُبْ عَلَيَّ × ٧٠

Setiap ba’da isya’ malam bulan Rajab, maka tidak akan tersentuh kulitnya oleh api neraka (Al-Hadits)

Barang siapa membaca
أحْمَدُ رَسُولُ الله محمّدُ رَسُولُ الله ×٣٥
Dibaca diantara dua khutbah hari Jum’at Akhir bulan Rojab, maka dimudahkan rizqinya dan dicukupi segala kebutuhanya (Kanzun Najja was-Surur, hal. 52)
Sumber dari Kitab Mukaasyafah Al-Quluub, Al-Imam Hujjatul Islam Abi Hamid bin Muhammad Al Ghozali

BULAN RAJAB MEMPUNYAI KEISTIMEWAAN TERSENDIRI

Setiap bulan itu baik, apabila diisi dengan perbuatan yang baik, dan setiap bulan akan menjadi bulan yang tidak baik apabila diisi dengan perbuatan yang tidak baik pula.

Allah SWT menjadikan bulan dalam satu tahun menjadi 12 bulan. Diantara 12 bulan tersebut ada 4 bulan yang dimuliakan Allah dan memiliki keistimewaan tersendiri. Dan diantaranya adalah bulan Rojab, sebagaimana Allah berfirman dalam Surat At-Yaubah ayat 36 ;

إن عدة الشهور عند الله اتنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم

(التوية :36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu dia menciptakan langit dan bumi, diantara empat bulan haram.” (QS. At-Taubah : 36)

Dalam hadits muslim Rasulullah SAW, menerangkan bahwa empat bulan tersebut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharoh dan Rajab.

Adapun yang dimaksud bulan haram yaitu bulan yang terhormat, bulan yang dimulikan oleh Allah, harus saling hormat menghormati, tidak boleh berperang dan menganiaya, harus mewujudkan kedamaian karena bulan mulia.

Diriwayatkan :

عن أنس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال :

Dari sahabat Annas RA : Bahwa Rasulullah SAW, apabila datang bulan rajab selalu berdoa :

اللهم بارك لنا في رجب و شعبان وبلغنا رمضان

“Ya Allah berilah kami keberkahan pada bulan rajab dab bulan sya’ban , ( dan panjangkanlah umur kami agar bisa) sampai pada bulan Ramadlan”

Dalam suatu riwayat Nabi berdasarkan :

إن لله في أيام دهر كم لنفحات فتعرضوا لها

“Sesungguhnya pada waktu-waktu kehidupanmu (pada hari-hari tertentu dan bulan-bulan tertentu) Allah memberikan keistimewaan tersendiri, maka railah waktu-waktu istimewa itu.”

Dan diantara waktu-waktu yang mempunyai keistimewaan tersendiri adalan bulan Rajab, sebagaimana Rasulullah SAW menerangkan diantara keistimewaan :

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة : أول ليلة من رجب وليلة النصف من الشعيان وليلة الجمعة وليلة الفطر وليلة النحر ( رواه اين عساكر وأخرجه السيوطي في الجامع )

“Dari sahabat Abi Umamah RA : rasulullah SAW bersabda : “Ada lima malam yang do’a tidak ditolak (oleh Allah SWT) : Malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Raya ‘Idul Fitri, dan malam Hari Raya ‘Idul Adha.” (HR. Ibnu ‘Asakir, dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Jaami’ush-shoghir)

Diantara keistimewaannya, Rosulullah SAW bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر . ( رواه البيهقي)

“Bersabda Rasulullah SAW : “ Sesungguhnya di surga ada sungai yang disebut dengan rajab (isinya) lebih putih dari pada susu, dan lebih manis dari pada madu. Barangsiapa yang berpuasa sunnah satu hari pada bulan Rajab akan diberi minum oleh Allah dari sungai tersebut.” (HR. Imam Baihaqi)

Adapun puasa sunnah pada bula Rajab banyak hadits-hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk melakukannya karena mempunyai nilai pahala ganda.

Dan bulan Rajab ada;lah bulan taubah, seorang ulama’ ahli hadits Al-Imam Muhammad bin Abdullah Al Jardani Rohimahullah menerangkan dalam kitab hadits Misbahud-dholam bahwa : “Diterangkan dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu, orang yang menbaca :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَليَّ ٧٠ ×

Dibaca 70 x setiap ba’da isya’ atau waktu pagi dan sore bulan Rajab,

لم تمس النار له جلرا

“Orang tersebut akan terhindar dari siksaan api neraka (dosa-dosanya diampuni oleh Allah)”

Dalam satu riwayat Rosulullah bersabda : “Barangsiapa membaca tasbih dari tanggal 1 bulan rajab sampai 10 sebanyak 100 kali

ُسبْحانَ اْلحَيِّ اْلقَيُّوْمِ

Dan dari tanggal 11 sampai 20 rajab 100 kali

ُسبْحاَنَ اللهِِ اْلأحَد ِالصَّمَدِ

Serta dari tanggal 21 sampai akhir bulan Rajab 100 kali

ُسبْحاَنَ اللهِِ الرَّؤُوْفِ

Orang yang membaca tasbih ini dengan cara begini, Rosulullah mengatakan ;

لم يصف الواصفون مايعطى من الثواب

(tidak dapat disifati dari banyaknya Allah memberikan pahala)

Semoga dengan kita semangat mendekatkan diri kepada Allah di bulan Rajab akan istiqomah kontinyu lestari terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah sepanjang tahun. Amin…

Wallahu ‘alam bishowaab…

By ; AkangZain

Jumat, 05 Desember 2008

Meneladani Ketaqwaan Nabi Ibrahim

Taqwa dalam arti dinamis adalah proses penelusuran keyakinan sedalam-dalamnya hakekat kepercayaan terhadap kekuasaan Allah secara terus menerus melalui berbagai macam peribadatan.

Ibadah bukan saja pengertian terbatas menyangkut hubungan perorangan dengan Tuhan secara langsung. Tetapi meliputi segala kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan individu (perorangan) dan bersama dalam bentuk masyarakat, bangsa bahkan pergaulan internasional.

Ibadah dalam pengertian yang luas itu meliputi ibadah ritual dan ibadah social. Tentu sejauh tak bertentangan dengan prinsip-prinsip peribadatan dan ketauhidan kepada Nya

Bertitik tolak pada pandangan itu, tak keliru bila kita memandang dengan mata hati kita peristiwa penyembelihan nabi Ismail yang masih remaja, oleh nabi Ibrahim sang ayah. Peristiwa itu adalah peristiwa sejarah yang kemudian melahirkan syari’ah dalam peribadatan haji umat islam sekarang ini.

Rasanya memang tidak akan kita jumpai sepanjang zaman, jika tidak kita kaitkan dengan hal ihwal kenabian. Bagi para nabi tak mustahil untuk dikenai peristiwa sejenis itu. Sebab peristiwa semacam itu pada diri nabi sendiri dimaksudkan sebagai ujian peningkatan tingkat kenabiannya. Dan seperti kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan banyak cobaan dari Allah SWT, yang pada dasarnya meningkatkan terus menerus akan tingkat keyakinannya kepada Sang Pencipta itu. Namun semua peristiwa itu diluar jangkauan kemampuan manusia.

Sebagai contoh bagaimana mungkin Nabi Ibrahim tak hangus dibakar, atau ketika pedang tajam dan terhunus lekat di leher anaknya yang sudah rebah siap mati demi peribadatan yang sebenar-benarnya, tahu-tahu Allah menggantinya dengan seekor kambing. Allah memanggil nama Ibrahim dengan lembut dan nyaring di hati Ibrahim.

“dan kami panggillah dia. Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikian kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik”. (QS. As-Shaafat, 104-105)

sehingga kepala yang terpenggal bukanlah kepala Ismail, melainkan kepala kambing pengganti yang disiapkan Allah melalui malaikatNya.

Sungguh itu adalah peristiwa mu’jizat, luar biasa dan tak terjangkau akal manusia. Tetapi manusia diharapkan melihat dengan penuh kesadaran hati kecilnya agar peristiwa-peristiwa kenabian semacam itu dijadikan contoh.

Mencontoh peristiwa semacam itu untuk peningkatan keyakinan sebenar-benarnya kepada kekuasaan Allah tentu saja tidak mudah. Tetapi manusia dapat dengan mudah mengambil ibarat, menatap sekitar, adanya bencana Alam dan tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Coba saja kita tatap dengan mata hati pergantian siang dengan malam. Juga perputaran bumi 24 jam sehari semalam. Rembulan berputar selama 29-31 hari mengitari matahari dan memantulkan sinar ke bumi, makin tua tanggalnya makin kecil sinarnya. Begitu pula perbedaan warna kulit manusia, bahasanya, bentuk hidungnya, rambutnya dan persebarannya di atas bumi secara terus menerus. Itu semua menurut ketetapan Allah (Sunnatullah).

Walau saya menyebutkan manusia, tak semua perilaku manusia itu termasuk dalam sunnatullah. Manusia dalam arti fisik digolongkan kepada peristiwa sunnatullah, namun manusia dalam arti piskis tak dapat dimasukkan kedalam sunnatullah itu.

Sebab, manusia punya kala, rasa, perasaan, emosi, bakat, dan pembawaan sendiri-sendiri menurut fitrahnya. Fitrah manusia dalam arti psikis itu bersifat dinamis, berkembang sendiri menurut kemampuan yang dibawanya itu.

Lalu dinamika macam apa yang dikehendaki ? bagi kita makhluk beriman sepantasnya menginginkan perkembangan yang diridhoi Allah. Perkembangan yang diridhoi Nya dapat diperoleh dari perbuatan-perbuatan yang berlandaskan syara’ dan dimotori oleh keyakinan ketuhidan yang kuat.

Mencontoh peristiwa kenabian seperti diatas, memandangnya dari dua sisi. Sisi pertama sudut alamiyah, sisi kedua pandangan syariah.

Dari sudut alamiyah ini bukan mengambil ibarat ketegaan penyembelihannya. Tetapi pada berbagi segi yang dapat dulakukan manusia pada umumnya.

Pada sudut alamiyah kaderisasi dan edukasi Ibrahim terhadap puteranya sangat menarik. Ibrahim memang sangat intens berdoa dan berusaha agar mendapatkan anak sholeh. Seperti disebutkan dalam surah Ash-Shaffat ayat 100;
…………


artinya : Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh

Doa itu dikabulkan Allah, bukan saja beliau mendapatkan satu putra, bahkan dua orang putra. Putra pertama Ismail dari istri keduanya yaitu Siti Hajar. Putra kedua Ishak dari istri pertamanya Sarah. Dua putra Ibrahim itu sama-sama diangkat Allah menjadi nabi, berkat didikan dan kaderisasi ayahnya.

Kaderisasi Ibrahim terhadap kedua putranya dilandaskan pertama sekali pada ketauhidan kepada Allah. Artinya penanaman keyakinan akan kekuasaan Allah segala-galanya. Untuk itu Nabi Ibrahim menempatkan

Jumat, 19 September 2008

Keistimewaan Ahli dan Hafal Al-Qur'an

Oleh : KH. Muahammad Sulaiman al-Hafidz Tegalsari Solo

Diterjemahkan Oleh : KH. Khoirul Mustamir al-Hafidz

68- "مَثَـلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَـلُ اْلأُتْرُجَّةِ رِيْحُـهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ, وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لاَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لاَرِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَنَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ لاَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ" رواه البخاري ومسلم عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه

68- "Perumpamaan orang mu'min yang membaca Al-Qur'an itu seperti buah jeruk, rasanya segar baunya sedap. Dan perumpamaan orang mu'min yang tidak pernah membaca Al-Qur'an itu seperti buah korma tidak berbau rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al-Qur'an itu seperti bunga (Roihanah) baunya wangi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Al-Qur'an itu seperti buah handzolah tidak berbau rasanya pahit".

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tentang utamanya seorang pembaca Al-Qur'an juga mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an.

69- "إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ" رواه البـخاري عن عثـمان بن عفان رضي الله عنه

69- "Sesungguhnya sebaik-baik kamu semua adalah orang yang mau belajar Al-Qur'an dan mengajarkan Al-Qur'an".

Keterangan ;

Hadits ini mendorong untuk mempelajari Al-Qur'an baik belajar dalam segi bacaan atau ma’na yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dengan tujuan akan mengamalkannya. Setelah berhasil dalam belajaranya kemudian mengajarkannya, sebab ilmu yang bermanfaat khususnya mengajarkan Al-Qur'an itu akan menjadi amal jariyah seperti disebutkan dalam hadits.

70- "إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ قِرَاءَةً مَنْ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَتَحَزَّنُ بِهِ" رواه الطبراني عن ابن عباس رضي الله عنهما

70- "Seungguhnya sebaik-baikk manusia yaitu bacaannya adalah seorang ketika membaca Al-Qur’an dengan suara yang menyentuh hati dan haru atau sedih."

71- "إِذَاخَتَمَ الْعَبْدُ الْقُرْآنَ صَلَّى عَلَيْهِ عِنْدَ خَتْمِهِ سِتُّوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ" رواه الديلمي عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده رضي الله عنهم

71- "Tatkala seorang hamba menghatamkan Al-Qur'an maka para Malaikat sejumlah enampuluh ribu memintakan ampun untuknya pada saat khataman”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan :

(1) Menganjurkan untuk membaca Al-Qur'an hingga khatam mulai awal surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas.

(2) Menerangkan betapa mulianya seorang yang membaca Al-Qur'an sampai khotam, sehingga para Malaikat ikut menghormati dengan memohonkan ampun untuknya.

72- "أَعْبُدُ النَّاسِ أَكْثَرُهُمْ تِلاَوَةً لِلْقُرْآنِ" رواه الديلمي عن أبي هـريرة رضي الله عنه

72- "Golongan orang yang lebih banyak ibadahnya adalah orang yang banyak membaca Al-Qur'an".

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan keutamaan orang yang rajin selalu membaca Al-Qur’an. Dengan demikian makanya sahabat 'Abdulloh bin Mas'ud RA sedidkit dalam melaksanakan puasa sunat karena khawatir jika puasanya bisa menguranginya dalam beribadah membaca Al-Qur'an.

73- "إِنَّ ِللهِ أَهْلِيْنَ مِنَ النَّاسِ قَالُوْا مَنْ هُمْ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَآصَّتُهُ" رواه النسائي وابن ماجه والحاكم عن أنس رضي الله عنه

73- "Sesungguhnya Alloh mempunyai kekasih dari manusia. Para sahabat lalu bertanya; Siapakah mereka itu wahai Rosululloh ? Rosululloh menjawab; Dia adalah ahli Al-Qur'an, mereka itu menjadi kekasih serta pilihan Alloh”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan bahwa Alloh memuliakan seorang yang hafal Al-Qur'an serta bisa mengamalkan dan memenuhi isi-isi Al-Qur'an sahingga bisa menjadi kekasih Alloh ta'ala.

74- "ثَلاَثَةٌ عَلَى كُثْبَانِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَيَهُوْلُهُمُ الْفَزَعُ وَلاَيَفْزَعُوْنَ حِيْنَ يَفْزَعُ النَّاسُ, رَجُلٌُ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ فَقَامَ بِهِ يَطْلُبُ وَجْهَ اللهِ وَمَا عِنْدَهُ, وَرَجُلٌ نَادَى فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسَ صَلَوَاتٍ يَطْلُبُ وَجْهَ اللهِ وَمَا عِنْدَهُ, وَمَمْلُوْكٌ لَمْ يَمْنَعْهُ رِقُّ الدُّنْيَا مِنْ طَاعَةِ رَبِّهِ" رواه الطبراني عن

ابن عمر رضي الله عنهما

74- "Ada tiga golongan besuk pada hari kiamat mereka menempati sebuah bukit dari misik, mereka tidak dirundung ketakutan serta tidak takut tatkala para manusia merasa takut ; (1) Orang yang belajar Al-Qur`an kemudian bisa menjalankan dan memenuhi isi-isi dari Al-Qur`an dengan ikhlas serta mengharapkan pahala di sisi Alloh. (2) Dan orang melakukan adzan tiap-tiap sehari semalam pada saat salat lima waktu dengan ikhlas serta mengharap pahala di sisi Alloh. (3) Dan seorang hamba yang tidak terhalang oleh dirinya sebagai hamba (melayani tuannya) dari berbakti dan taat kepada Alloh”.

75- "خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ وَأُبَيٍّ ابْنِ كَعْبٍ وَمُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِيْ حُذَيْفَةَ" رواه الترمذي والحاكم عن ابن عمرو بن العاص رضي الله عنهما

75- "Ambillah kalian (bergurulah) Al-Qur'an kepada empat orang : Ibnu Mas'ud, Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, dan Salim budak Abi Hudzaifah"

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan cara membaca Al-Qur'an, yaitu harus berguru kepada seorang guru yang mempunyai sanad guru hingga naik ke atas bersambung kepada salah satu sahabat empat yaitu 'Abdulloh bin Mas'ud, Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, serta Salim. Sebab membaca Al-Qur'an hanya dengan berdasar kitab tajwaid itu belum mencukupi, sebab kitab tajwaid sifatnya hanya sebagai pengantar saja.

Sedangkan Rosululloh menunjuk sahabat empat ini mungkin karena ilmu qirohnya melebihi para sahabat yang lain serta belajarnya Al-Qur’an dari Rosululloh secara langsung tanpa ada perantara.

Sedangkan aku (KH Muhammad bin Sulaiman yang menyusun kitab ini red) telah belajar membaca Al-Qur'an naiknya bersambung kepada sahabat 'Abdulloh bin Mas'ud lan Ubay bin Ka'ab.

76- "مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَ بَيْنَهُـمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ" رواه أبو داود عن أبي هريرة رضي الله عنه

76- "Suatu kaum tidak berkumpul di dalam satu masjid dari masjid-masjidnya Alloh untuk membaca kitab Alloh (Al-Qur'an) dan belajar bersama diantara mereka kecuali akan diturunkan atas mereka berupa sakinah (ketenteraman) dan mereka akan dilindungi rahmat Alloh, dan mereka akan dikelilingi oleh para Malaikat serta akan disebut-sebut oleh Alloh dikalangan para Malaikat".

Keterangan ;

Hadits ini mengajurkan atau mendorong untuk membaca Al-Qur'an bersama-sama atau bertadarusan di dalam masjid.

77- "مَنْ خَتَمَ الْقُرْآنَ أَوَّلَ النَّهَارِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ خَتَمَهُ آخِرَ النَّهَارِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى يُصْبِحَ" رواه أبو نعيم عن سعيد بن أبي وقاص رضي الله عنه

77- "Barang siapa yang khatam Al-Qur'an diawal siang hari, maka dmintakan ampunan oleh para Malaikat hingga sore hari, dan barang siapa khatam Al-Qur'an pada sore hari maka dimintakan ampunan oleh para Malaikat hingga pagi hari”.

78- "مَنْ أَمَّ قَوْمًا وَفِيْهِمْ مَنْ هُوَ أَقْرَأُ مِنْهُ لِكِتَابِ اللهِ وَأَعْلَمُ لَمْ يَزَلْ فِيْ

سِفَالٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ" رواه العُقَيْلُ عن ابن عمر رضي الله عنهما

78- "Barang siapa mengimami suatu kaum, dan di dalam kaum terdapat orang yang lebih baik bacaannya kitab Alloh (Al-Qur’an) dari pada dia, serta lebih alim dan lebih tahu, maka orang yang mengimami tersebut akan selalu menurun derajatnya atau pahalanya hingga besuk hari kiamat”.

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan betapa mulianya seorang yang bagus bacaannya Al-Qur’an, sehingga apabila mereka melakukan salat jama'ah maka disunatkan yang menjadi imam adalah orang yang lebih bagus bacaannya Al-Qur’an serta lebih tahu permasalahan-permasalahan hukum salat.

79- "اَلْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِيْ يَقْرَؤُهُ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ" رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه والنسائي عن عائشة رضي الله عنها

79- "Seorang yang mahir dan pandai membaca Al-Qur'an itu bersama-sama para Malaikat yang mulia-mulia. Dan orang yang membaca Al-Qur'an dengan tidak lancar (grothal-grathul: jawa) serta merasa berat maka dia memperoleh dua pahala”.

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan :

(1) Keutamaan orang yang pandai dan mahir membaca Al-Qur'an sehingga para Malaikat yang mencatat amalnya para manusia mau menemani orang tersebut, baik di dunia maupun di akhirat.

(2) Memberi kabar gembira kepada orang yang membaca Al-Qur'an dengan susah payah atau tidak lancar dengan diberinya pahala karena murahnya Alloh ta'ala.

80- "مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ يُحِلُّ حَلاَلَهُ وَيُحَرِّمُ حَرَامَهُ حَرَّمَ اللهُ لَحْمَهُ وَدَمَهُ عَلَى النَّارِ وَجَعَلَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ كَانَ الْقُرْآنُ حُجَّةً لَهُ" روا الطبراني عن أنس رضي الله عنه

80- "Barang siapa membaca Al-Qur'an serta memenuhi dengan menjalankan Al-Qur'an pada waktu malam hari dan siang hari, menghalalkan apa yang di halalkan Al-Qur'an dan mengharamkan apa yang diharamkan Al-Qur'an,maka Alloh mengharamkan dagingnya dan darahnya atas neraka (masuk neraka) dan Alloh menjadikan serta menggolongkannya beserta para Malaikat yang mulia, sehingga besuk pada hari kiamat Al-Qur’an akan menjadi hujjah (bukti) untuk membantunya”.

Keterangan ;

Hadits ini memberi kabar gembira bagi orang yang membaca Al-Qur'an dengan memenuhi menjalankan isi-isi Al-Qur'an. Orang yang demikian ini Alloh mengharamkannya masuk naraka, para Malaikat bersedia menemaninya sehingga besuk pada hari kiamat Al-Qur'an akan menjadi (hujjah) bukti yang akan membantunya.

81- "مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَاسْتَظْهَرَهُ فَأَحَلَّ حَلاَلَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِيْ عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ وَجَبَتْ لَهُمُ النَّارُ" رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد عن علي رضي الله عنه

81- "Barang siapa membaca Al-Qur'an hingga hafal kemudian memenuhi mana yang dihalalkan oleh Al-Qur'an dan mencegah mana yang diharamkan oleh Al-Qur'an maka Alloh akan memasukkannya disorga serta memberinya idzin untuk mensyafa’ati sepuluh orang dari keluarganya yang sudah diwajibkan (ditetapkan) masuk neraka”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan bahwa Alloh memuliakan seorang yang hafal Al-Qur'an serta bisa mengamalkan isi-isi Al-Qur'an dengan diberi anugerah yang berupa dimasukkannya ke sorga dan diberi idzin untuk mensyafa’ati (menolong) sepuluh orang dari keluarganya yang sudah ditetapkan masuk neraka.

82- "مَا مِنْ رَجُلٍ يُعَلِمُ وَلَدَهُ الْقُرْآنَ إِلاَّ تُوِّجَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِتَاجٍ فِي الْجَنَّةِ" رواه الطبراني عن أبي هريرة رضي الله عنه

82- "Tidak ada seorang laki-laki yang mengajarkan Al-Qur'an kepada anaknya kecuali akan diberi mahkota besuk pada hari kiamat dengan mahkota di sorga”.

Keterangan ;

Hadits ini mendorong para orang tua khususnya para bapak agar supaya mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya dengan diberi kabar gembira akan diberi mahkota di sorga, serta supaya bisa memperoleh pahalanya amal jariyah.

83- "مَنْ تَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ اسْتَقْبَلَتْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَضْحَكُ فِيْ وَجْهِهِ" رواه الطبراني عن أبي أمامة رضي الله عنه

83- Barang siapa belajar satu ayat dari kitabnya Alloh (Al-Qur'an) maka ayat tersebut akan menyambutnya besuk pada hari kiamat dengan senyuman di wajahnya”.

Keterangan ;

Hadits ini mendorong untuk belajar Al-Qur'an, baik belajar dari segi bacaannya atau belajar dari segi arti dan ma’na dengan tujuan agar supaya bisa menarik kendali iman serta bertambah taatnya kepada Alloh. Hadits ini juga memberi tahukan kepada seorang yang mempelajari Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an besuk pada hari kiamat akan menyambutnya dengan perasaan gembira dan lega.

84- "مَنْ تَعَلَّمَ كِتَابَ اللهِ ثُمَّ اتَّبَعَ مَا فِيْهِ هَدَاهُ اللهُ بِهِ مِنَ الضَّلاَلَةِ وَوَقَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سُوْءَ الْحِسَابِ" رواه الطبراني عن ابن عباس رضي الله عنهما

84- "Barang siapa mempelajari kitab Alloh (Al-Qur'an) kemudian mengikuti isi Al-Qur'an maka Alloh memberikan petunjuk dari jalan sesat serta menjaganya besuk pada hari kiamat dari jelek dan beratnya hisab (pemeriksaan amal dihadapan Alloh ta’ala)”.

85- "لاَحَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ, وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ" رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنهما

85- "Tidak pantas mempunyai keinginan kecuali menginginkan dua perkara : (1) Orang yang sudah diberi oleh Alloh bisa membaca Al-Qur’an kemudian bisa memenuhi menjalankan isi-isnya pada waktu malam hari dan siang hari. (2) Dan orang yang diberi oleh Alloh berupa harta benda kemudian membelanjakannya (menginfaqkannya) pada waktu malam hari dan siang hari”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan dua perkara yang sangat penting dan pantas untuk diinginkan serta ditirukan :

(1) Orang yang membaca Al-Qur’an dengan baik serta bisa menjalankan isi-isi Al-Qur’an, sehingga tingkah lakunya selalu mencocoki dan sesuai dengan tatanan Al-Qur’an.

(2) Orang yang sudah diberi harta benda kemudian bisa membelanjakannya pada jalan yang diridloi oleh Alloh ta'ala.

86- "أَشْرَافُ أُمَّتِيْ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ وَأَصْحَابُ اللَّيْلِ" رواه الطبراني عن ابن عباس رضي الله عنهما

86- "Golongan yang paling mulia dari umatku adalah orang yang hafal Al-Qur’an dan orang yang menghidupkan waktu malam harinya”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan betapa mulianya satu golongan dari umat Rosululloh SAW

(1) Orang-orang yang hafal Al-Qur'an serta bisa menjalankan isi-isi Al-Qur'an.

(2) Orang-orang yang berusaha menghidupkan waktu malam harinya dengan melakukan salat malam atau berdzikir.

87- "أَغْنَى النَّاسِ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ مَنْ جَعَلَهُ اللهُ تَعَالَى فِيْ جَوْفِهِ" رواه ابن عساكر عن أبي ذرّ رضي الله عنه

87- "Lebih kaya-kayanya manusia adalah orang yang hafal Al-Qur'an, yaitu orang yang oleh alloh telah diletakkannya Al-Qur'an di dalam perutnya (jantungnya)".

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan; sesunggunya seorang yang hafal Al-Qur'an serta bagus bacaannya dan mengerti ma’nanya kemudian menjalankan isinya adalah orang yang dinamakan kaya secara hakikatnya. Sebab yang dinamakan kaya bukan orang yang banyak hartanya, akan tetapi yang dinamakan kaya adalah orang yang hatinya merasa tidak membutuhkan dari milik orang lain serta tidak mengharapkan pemberian orang lain. Hatinya menerima apa yang telah diberikan oleh Alloh kepadanya, dirinya merasa lega, puas dan ridlo. Demikian ini sebab orang yang membaca Al-Qur'an serta mengetahui ma’na ayat yang dibacanya menyebutkan bahwa betapa luas dan maha pemurahnya Alloh. Alloh sangat mengasihi terhadap hamba-hambanya. Juga betapa luas dan sempurnanya ilmu yang dimiliki Alloh. Sehingga semua yang di kerjakan berdasarkan kebijaksanaan yang sampurna, juga berdasarkan ukuran dan perhitungan yang matang menurut kebijaksanaan yang tinggi. Seba Alloh ta'ala itu maha tahu mana yang lebih maslahat bagi dirinya. Akan tetapi kadang-kadang seorang hamba banyak yang tidak mengetahuinya. Maka orang yang membaca Al-Qur'an semacam ini tadi hatinya pasti merasa tambah yaqin dan pasrahnya kepada Alloh yang maha pemurah sehingga selalu berperasangka yang baik terhadap segala sesuatu yang sudah di pastikan dan diberikan oleh Alloh. Hal demikian ini bisa menimbulkan ketenteraman hati serta cintanya kepada Alloh yang menarik untuk selalu ta’at beribadah serta hatinya merasa tidak butuh dari harta milik orang lain karena Alloh tidak akan tega terhadap seorang hambanya yang ta’at dan taqwa kepadanya. Demikian ini sebagian dari keterangan. Juga ada yang menerangkan bahwa hadits ini menjelaskan tentang seorang yang hafal Al-Qur’an serta mengamalkan isi-isinya itu bisa menarik terhadap sebab luasnya harta dan rizki.

88- "أَكْرِمُوْا حَمَلَةَ الْقُرْآنِ فَمَنْ أَكْرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَنِيْ" رواه الديلمي عن ابن عمرو بن العاص رضي الله عنه

88- "Muliakanlah orang-orang yang hafal Al-Qur’an, maka barang siapa memuliakan orang-orang yang hafal Al-Qur’an maka betul-betul telah memuliakanku”.

89- "حَمَلَةُ الْقُرْآنِ أَوْلِيَاءُ اللهِ فَمَنْ عَادَاهُمْ عَادَى اللهَ وَمَنْ وَالاَهُمْ فَقَدْ وَالَى اللهَ" رواه الديلمي وابن النجّار عن ابن عمر رضي الله عنهما

89- "Orang-orang yang hafal Al-Qur’an itu menjadikekasihnya Alloh. Maka barang siapa memusuhi orang-orang yang hafal Al-Qur’an, berarti telah memusuhi Alloh. Dan barang siapa mengasihi orang-orang yang hafal Al-Qur'an, berarti mengasihi Alloh”.

90- "حَامِلُ الْقُرْآنِ مَوْقِيٌّ" رواه الديلمي عن عثمان بن عفان رضي الله عنه

90- "Orang yang hafal Al-Qur’an itu terjaga”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan bahwa orang yang hafal Al-Qur’an serta mengethui ma’nanya kemudian mengamalkannya itu terjaga dari pekerjaan tersesat. Sebab semua petunjuk Al-Qur'an yang berupa perintah-perintah dan berupa larangan-larangan pasti benar dan ada hikmahnya, baik mereka mengetahui hukumnya atau tidak. Sebab Al-Qur'an adalah wahyu yang sudah ditulis pada Lauh Mahfudz yang menyusun Alloh yang maha bijaksana, yang menciptakan para manusia, yang maha tahu mana yang ada kemanfaatannya terhadap hamba untuk dicegah, dan mana yang ada bahayanya terhadap hamba untuk dicegah. Maka sudah pasti dan sewajarnya seorang yang mengamalkan Al-Qur’an tidak akan tersesat hidupnya.

91- "لَيْسَ أَحَدٌ أَحَقَّ بِالْحِدَّةِ مِنْ حَامِلِ الْقُرْآنِ لِعِزَّةِ الْقُرْآنِ فِيْ جَوْفِهِ" رواه الديلمي عن أنس رضي الله عنه

91- “Tidak ada seseorang yang lebih tetap kerasnya ketimbang dari seorang yang hafal Al-Qur’an sebab mulia serta tingginya Al-Qur’an yang ada di dalam perutnya (jantungnya)”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan sebagian dari sifatnya seorang yang hafal Al-Qur’an serta memenuhi isi-isinya, dia diberi sifat keras dikala melihat perkara yang mungkar maka segera mencegahnya.

92- "مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ مَتَّعَهُ اللهُ بِعَقْلِهِ حَتَّى يَمُوْتَ" رواه ابن عَدِيٍّ عن أنس

رضي الله عنه

92- “Barang siapa yang hafal seluruh Al-Qur’an, maka Alloh memberinya bisa mengambil manfa’at dengan akalnya hingga mati”.

Keterangan ;

Hadits ini memberikan kabar gembira bagi orang yang hafal Al-Qur’an serta memenuhi isi-isinya, dia akan ditanggung oleh Alloh diberi keselamatan otaknya sehingga dia tidak akan mengalami kerusakan (pikun).

93- "اَلنَّبِيُّوْنَ وَالْمُرْسَلُوْنَ سَادَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَالشُّهَدَاءُ قُوَّادُ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَحَمَلَةُ الْقُرْآنِ عُرَفَاءُ أَهْلِ الْجَنَّةِ" رواه أبو نعيم عن أبي هريرة رضي الله عنه

93- “Para Nabi dan para utusan itu menjadi pimpinan penduduk sorga, dan para syuhada’ itu menjadi petunjuk penduduk sorga, dan orang yang hafal Al-Qur’an itu menjadi kepala rombongan penduduk sorga”.

94- "حَمَلَةُ الْقُرْآنِ فِيْ ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ" رواه الديلمي عن علي رضي الله عنه

94- “Orang-orang yang hafal Al-Qur’an itu berada dibawah perlindungan Alloh besuk pada hari yang tidak perlindungan kecuali perlindungan Alloh”.

95- "مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ كَانَتْ لَهُ عِنْدَ اللهِ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ إِنْ شَاءَ عَجَّلَهَا فِي الدُّنْيَا وَإِنْ شَاءَ ادَّخَرَهَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ" رواه الطبراني عن جابر رضي الله عنه

95- “Barang siapa yang hafal seluruh Al-Qur’an, maka dia mempunyai permohonan yang ijabah di sisi Alloh. Jika Alloh menghendaki maka segera memberikannya di dunia, jika menghendakinya maka menyimpannya untuk diberikan di akhirat (menurut kebijaksanaan Alloh ta’ala”.

96- "يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ, اِقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا, فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا" رواه الترمذي وأبو داود وابن ماجه وابن حبان عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما

96- "Dikatakn kepada seorang yang ahli membaca Al-Qur’an : Bacalah dan naiklah dengan tartil dan jelas seperti kamu membaca dengan tartil di dunia, maka sesungguhnya tempatmu berada di akhir ayat yang kamu baca”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tentang :

(1) Penduduk sorga, mereka itu membaca Al-Qur’an.

(2) Tempat atau rumah di sorga itu bertingkat-tingkat.

(3) Mendorong untuk selalu membaca Al-Qur’an hingga khatam agar supaya besuk di akhirat bisa mendapatkan sorga tingkat tinggi.

(4) Mendorong untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil dan jelas yang sesuai dengan batasan-batasan ilmu qiroat seperti yang sudah disebutkan dalam hadits nomor (24).

Keistimewaan Surat dan Ayat Al-Qur'an

Oleh : KH. Muahammad Sulaiman al- Hafidz Tegalsari Solo
Diterjemahkan Oleh : KH. Khoirul Mustamir al-Hafidz


48- "لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُوْرَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا" رواه البخاري عن أَسْلَمَ رضي الله عنه

48- “Sungguh pada suatu malam telah diturunkan kepadaku sebuah surat yang lebih aku sukai daripada semua benda yang terkena sinar matahari. Kemudian Rosululloh membaca :

"إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا"

49- "لأُعَلِّمَنَّكَ سُوْرَةً هِيَ أَعْظَمُ سُوْرَةٍ فِي الْقُرْآنِ, قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ الَّذِيْ أُوْتِيْتُهُ" رواه البخاري وأبو داود والنسائي وابن ماجه عن أبي سعيد الْمُعَلَّى رضي الله عنه

49- “Sungguh aku akan mengajarkanmu suatu surat dimana surat tersebut merupakan lebih agung-agungnya surat didalam Al-Qur’an, yaitu :

"اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ"

yaitu yang dinamakan As-Sab’u Al-Matsaniy wa Al-Qur’an Al-‘Adhim yang telah diberikan kepadaku”

50- "لاَتَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ, إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ" رواه مسلم والنسائي والترمذي عن أبي هريرة رضي الله عنه

50- "Jangan kalian jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan. Sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqoroh"

51- "كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُوْرَةَ الْكَهْفِ وَإِلَى جَانِبِهِ حِصَانٌ مَرْبُوْطٌ بِشَطَنَيْنِ فَغَشِيَتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُوْ وَتَدْنُوْ وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِيْنَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ" رواه البخاري عن البراء رضي الله عنه

51- "Ada seorang laki-laki yang membaca surat Al-Kahfi dan disampingnya ada seekor kuda yang diikat dengan dua tali, kemudian ada mega yang datang mendekat dan semakin mendekat dan menjadikan kudanya meronta-ronta. Ketika memasuki pagi hari seorang laki-laki tersebut menghadap Rosululloh SAW kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya semalam. Kemudian Nabi mengatakan ; Itu adalah sakinah yang turun sebab Al-Qur’an dibaca”.

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tiga perkara yaitu :

(1) Sesungguhnya sakinah serta para Malaikat mereka mendekati orang yang sedang membaca Al-Qur'an. Yang dinamakan dengan sakinah menurut sahabat 'Ali RA yaitu angin yang halus yang mempunyai wajah seperti wajah manusia. Menurut syaikh Nawawi sakinah itu satu makhluk yang mengandung thuma'ninah serta rahmat bersamaan dengan para Malaikat.

(2) Menerangkan bahwa hewan itu bisa melihat makhluk halus seperti yang disebutkan dalam hadits lain yang artinya demikian ; Ketika kalian mendengar berkokoknya ayam jantan, maka mintalah dan berdoalah kalian sebab ayam jantan itu melihat Malaikat.

(3) Menerangkan karomahnya sahabat yang membaca Al-Qur'an tadi. Namanya Usaid bin Hudloir seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat lain, karena dia melihat dan merasakan adanya sakinah. Katanya seseorang kepada Rosululloh SAW : Saya menghadapkan wajah keatas langit saya melihat banyak sinar yang terang benderang seperti lampu-lampu lalu naik keatas sehingga tidak kelihatan.

52- "مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِيْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ" رواه النسائي والبيهقي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه

52- "Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at maka menyinarinya dari nur antara dua Jum'at"

53- "مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ يس اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ فَاقْرَؤُهَا عِنْدَ مَوْتِكُمْ" رواه البيهقي عن معقل بن يسار رضي الله عنه

52- "Barang siapa membaca surat Yasin karena mengharapkan pahala dari Alloh maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu, maka bacalah surat Yasin disamping orang yang sedang mengalami sakarotul maut”.

54- "مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أََبَدًا" رواه البيهقي

عن ابن مسعود رضي الله عنه

54- "Barang siapa membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam maka tidak akan mengalami kefakiran untuk selamanya”.

55- "مَنْ قَرَأَ تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ كُلَّ لَيْلَةٍ مَنَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ" رواه النسائي عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه

55- "Barang siapa membaca ; ( تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ )

setiap malam makai Alloh ‘Azza wa Jalla menghindarkannnya dari siksa kubur”.

56- "قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ" رواه مسلم عن أبي الدرداء رضي الله عنه ورواه البخاريّ عن أبي سعيد الخدريّ

56- " قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌitu menyamai sepertiga dari Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan ma’na surat Al-Ikhlash yaitu mengandung sepertiga Al-Qur'an, sebab Al-Qur'an itu memuat tiga perkara :

(1) Bab hukum-hukum.

(2) Bab cerita-cerita dan sejarah.

(3) Bab tauhid. Berhubung surat Al-Ikhlash itu memuat bab tauhid, maka perbandhingannya sepertiga Al-Qur'an.

57- "إِذَا زُلْزِلَتْ تَعْدِلُ نِصْفَ الْقُرْآنِ, وَقُلْ يَآأَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ تَعْدِلُ رُبُعَ الْقُرْآنِ, وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ" رواه الترمذي والحاكم والبيهقي

عن ابن عباس رضي الله عنهما

57- " إِذَا زُلْزِلَتْ itu menyamai separo dari Al-Qur'an,dan قُلْ يَآأَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ itu menyamai seperempat dari Al-Qur'an, dan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ itu menyamai sepertiga dari Al-Qur'an".

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan :

Surat Al-Zalzalah itu sebanding dengan separo Al-Qur'an. Jelasnya demikian ; Berhubung inti pokok isi Al-Qur'an itu memuat dua perkara yaitu menjelaskan tentang keadaan kehidupan di dunia serta menjelaska tentang keadaan kehidupan di akhirat. Padahal surat Al-Zalzalah itu hanya menjelaskan tentang keadaan akhirat belaka, maka sudah sewajarnya jika surat Az-Zalzalah dinamakan separonya Al-Qur'an. Surat Al-Kafirun dinamakan seperempat dari Al-Qur'an, sebab memuat empat perkara :

(1) Bab tauhid.

(2) Bab nubuwwah.

(3) Bab hukum-hukum kehidupan di dunia.

(4) Bab hukum-hukum kehidupan di akhirat.

Berhubung surat Al-Kafirun itu memuat bab tentang bersih dari laku syirik yang berarti tauhid dimana tauhid itu menjadi bagian dari empat perkara tadi. Maka sudah sewajarnya surat Al-Kafirun dinamakan seperempat Al-Qur'an. Untuk keterangan tentang surat Al-Ikhlash sudah disebutkan dalam hadits no 56.

58- "فَاتِحَةُ الْكِتَابِ شِفَاءٌ مِنَ السُّمِّ" رواه أبو الشيخ عن أبي سعيد وأبي هريرة رضي الله عنهما

58- "Surat Al-Fatihah itu bisa menjadi obat dari sengatan racun"

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan surat Al-Fatihah, yaitu bisa untuk mengobati dari sengatan hewan beracun selama yang membaca adalah orang yang tebal imannya.

59- "كَانَ إِذَا اشْتَكَى نَفَثَ عَـلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَمَسَحَ عَنْهُ بِيَدِهِ" رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه عن عائشة رضي الله عنها

59- "Tatkala Rosululloh sedang sakit kemudian beliau meniup badannya seraya membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Nas kemudian beliau mengusapkan badannya dengan tangannya"

60- "مَنْ قَرَأَ السُّوْرَةَ الَّذِيْ يُذْكَرُ فِيْهَا آلُ عِمْرَانَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَمَلاَئِكَتُهُ حَتَّى تَجِبَ الشَّمْسُ" رواه الطبراني عن ابن عباس رضي الله عنهما

60- "Barang siapa membaca surat yang didalamnya disebut Ali 'Imron pada hari Jum'at maka Alloh serta para Malaikat memberikan rahmat kepadanya sampai tenggelamnya matahari".

61- "مَنْ قَرَأَ حم الدُّخَانَ فِيْ لَيْلَةِ جُمْعَةٍ أَوْيَوْمِ جُمْعَةٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ" رواه الطبراني عن أبي أمامة رضي الله عنه

61- "Barang siapa membaca surat Haamiim Ad-Dukhon pada malam Jum'at atau hari Jum'at maka Alloh membuatkannya rumah di sorga".

62- "مَنْ قَرَأَ بِاْلآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ" رواه البخاري ومسلم وأحمد وابن ماجه عن أبي مسعود رضي الله عنه

62- "Barang siapa membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqoroh pada malam hari maka sudah mencukupinya".

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan keutamaan ayat akhir surat Al-Baqoroh yaitu mulai "آمَنَ الرَّسُوْلُ" hingga akhir surat. Sehingga barang siapa yang membaca surat ini pada malam hari maka sudah bisa mencukupi dari salat malam, artinya sudah seperti salat tahajjud. Demikian keterangan ini seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat lain.

63- "ضَعْ أُصْبُعَكَ السَّبَابَةَ عَلَى ضَرْسِكَ ثُمَّ اقْرَأْ آخِرَ يس" رواه الديلمي عن ابن عباس رضي الله عنهما

63- "Letakkanlah jari telunjukmu pada gusi kemudian bacalah akhir surat Yasin".

Keterangan ;

Hadits ini merangkan keutamaan ayat akhir dari surat Yasin yaitu mulai

"أَوَلَمْ يَرَ اْلإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ" sampai selesai guna mengobati sakit gigi.

64-"مَنْ قَرَأَ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ" رواه أحمد ومسلم والنسائي عن أبي الدرداء رضي الله عنه

64- "Barang siapa membaca sepuluh ayat yang akhir dari surat Al-Kahfi niscaya dijaga dari fitnahnya Dajjal"

Keterangan ;

Hadits ini mendorong untuk membaca sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi yaitu mulai dari ayat

"اَلَّذِيْنَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِيْ غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِيْ" hingga selesai agar dijaga dari fitnahnya Dajjal jika menemui zamannya Dajjal. Sebab Dajjal yang mengaku tuhan akan muncul setelah mendekati hari kiamat seperti keterangan dalam sebuah hadits.

65- "مَنْ قَـرَأَ ثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّـالِ" رواه الترمذي عن أبي الدرداء رضي الله عنه

65- "Barang siapa membaca tiga ayat dari awal surat Al-Kahfi maka terjaga dari fitnahnya Dajjal".

Keterangan ;

Hadits ini menganjurkan untuk membaca permulaan surat Al-Kahfi, yaitu mulai awal sampai ayat "مَاكِثِيْنَ فِيْهِ أَبَدًا" agar supaya terjaga dari fitnahnya Dajjal. Berhubung ada dua riwayat maka sebaiknya dibaca semua.

66- "مَنْ قَالَ حِيْنَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَقَرَأَ الثَّلاَثَ آياَتٍ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللهُ بِهِ سَبْعِيْنَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّوْنَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِيَ فَإِنْ مَاتَ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ مَاتَ شَهِيْدًا وَمَنْ قَالَهَا حِيْنَ يُمْسِيْ كَانَ كَذَلِكَ" رواه الترمذي عن معقِل بن يسار رضي الله عنه

66- "Barang siapa yang membca pada pagi hari tiga kali;

"أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ"

serta membaca tiga ayat dari akhir ayat dari surat Al-Hasyr maka Alloh mewakilkan kepada tujuhpuluh (70.000) Malaikat, mereka memohonkan rahmat baginya hingga sore hari. Apabila mati pada hari tersebut, maka dia mati syahid. Dan barang siapa membaca bacaan tersebut pada waktu sore hari, maka juga demikian".

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan keutamaan ayat akhir dari surat Al-Hasyr yaitu mulai ;

"هُوَ اللهُ الَّذِيْ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ" hingga akhir surat.

67- "قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ وَكَّلَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِيْ آتٍ فَجَعَلَ يَحْثًُوْ مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذَتْهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّيْ مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَبِيْ حَاجَةٌ شَدِيْدَةٌ فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَاأَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيْرُكَ الْبَارِحَةَ فَقُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ شَكَا حَاجَةً وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ فَقَالَ أَمَا أَنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُوْدُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُوْدُ لِقَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُوْ مِنَ الطَّعَامِ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعْنِيْ فَإِنِّيْ مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ لاَأَعُوْدُ فَرَحِمْتُهُ وَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَاأَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيْرُكَ الْبَارِحَةَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ شَكَا حَاجَةً وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ وَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُوْدُ فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُوْ مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ إِنَّكَ تَزْعَمُ أَنَّكَ لاَتَعُوْدُ ثُمَّ تَعُوْدُ فَقَالَ دَعْنِيْ فَإِنِّيْ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهَا قُلْتُ مَا هُنَّ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فَإِنَّهُ لاَيَزَالُ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلاَيَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا فَعَلَ أَسِيْرُكَ الْبَارِحَةَ فَقُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِيْ كَلِمَاتٍ يَنْفَعَنِيَ اللهُ بِهَا فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ فَقَالَ مَا هِيَ فَقُلْتُ قَالِ لِيْ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ اْلآيَةَ "اَللهُ لاَإِلَهَ إِلاَّهُوَ الْحَيُِ الْقَيُِوْمُ" وَقَالَ لِيْ لاَيَزَالُ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَنْ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَـا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوْبٌ, تَعْلَمُ

مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثٌ يَاأَبَا هُرَيْرَةَ قُلْتُ لاَ قَالَ ذَاكَ شَيْطَانٌ" رواه البخاري

67- "Kesimpulan hadits ini demikian; Abu Huroiroh mengatakan ; Aku diserahi oleh Rosululloh SAW menjaga zakat Romadlon (tamar) kemudian pada suatu malam ada seorang datang meraup zakat tersebut, lalu saya tangkap dan saya mengatakan kepadanya; Kamu akan saya laporkan kepada Rosululloh SAW. Orang tadi menjawab ; Sesungguhnya aku sangat membutuhkan dan aku mempunyai tanggungan keluarga. Kemudian saya lepaskan. Pagi-pagi saya bertemu Rosululloh SAW. Rosululloh SAW bertanya; Hai Abu Huroiroh, apa yang telah kamu lakukan terhadap tangkapanmu tadi malam ? Saya jawab ; Ya Rosululloh, dia mengeluh mempunyai kebutuhan dan keluarga, kemudian saya lepaskan. Kemudian Rosululloh mengatakan ; Ketahuilah bahwa dia telah menipumu dan dia akan mengulanginya lagi. Kata Abu Huroiroh; Saya tahu kalau dia akan kembali lagi karena diberi tahu oleh Rosululloh. Maka saya menengok pada malam kedua. Ternyata benar orang tersebut datang serta meraup kembali dari tamar zakat tadi. Kemudian saya mengatakan seperti ucapan saya yang sudah. Paginya saya bertemu Rosululloh, Rosululloh juga mengatakannya lagi seperti yang sudah-sudah berulang hingga tiga kali. Setelah itu Abu Huroiroh mempermalukan orang tersebut; Katanya kamu tidak akan kembali lagi tapi ternyata kamu masih kembali lagi. Biarkanlah saja aku, kamu akan saya ajari kalimat-kalimat dimana Alloh akan memberimu manfa’at. (Ketika kamu hendak pergi tidur, maka bacalah ayat Kursi nidcaya akan ada Malaikat yang menjagamu hingga pagi hari). Kemudian oleh Abu Huroiroh orang itu dilepaskan. Kata Abu Huroiroh; Paginya saya bertemu Rosululloh, yang kemudian beliau bertanya kepadaku : Bagaimana kabar tangkapanmu semalam ? Saya jawab ; dia mengajarkanku begini (Ketika kamu hendak pergi tidur………seterusnya seperti yang sudah disebutkan diatas). Rosululloh SAW mengatakan ; Ketahuilah bahwa dia telah memenuhi kamu, akan tetapi dia itu seorang yang banyak menipu (penipu). Kamu tahu wahai Abu Huroiroh, siapa dia yang kamu ajak bicara selama tiga malam ? Saya jawab ; Tidak tahu. Rosululloh berkata ; Dia itu adalah Syaitan.

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan tentang :

(1) Keutamaan Ayat Kursi, yaitu mulai ;

اَللهُ لاَإِلَهَ إِلاَّهُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ sampai الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Jika dibaca bisa untuk mengusir atau menyingkirkan Syaitan.

(2) Menerangkan bahwa Syaitan itu bisa menyamar sebagai manusia atau ular atau anjing. Ketahuilah hadits ini termasuk hadits (Taqririy) artinya yang ditetapkan dan dibenarkan oleh Rosululloh SAW. Ada lagi hadits (Fi'liy) artinya adalah tingkah laku Rosululloh SAW. Dan ada lagi hadits (Qouliy) artinya ucapan Rosululloh SAW.